Game Level 1 Kelas Bunda Sayang IIP: Komunikasi Produktif Day #6
Dua hari kemarin saya tidak sempat mengerjakan tantangan. Di waktu pagi seperti biasa saya sibuk memasak, mencuci baju, menyiapkan botol dan pompa asi, dan siap-siap ke kantor, sementara Pak Su ngasuh bayi, jadi kami hampir tidak sempat ngobrol. Lain lagi di malam hari. Dua malam itu beliau pulang setelah saya ketiduran. Akhir-akhir ini misua memang sedang lebih sibuk dari biasanya.
Malam ini pun sesungguhnya sama. Mendadak ada takziah di rumah saudara, jadi kami hanya sempat ngobrol setelah shalat magrib sampai azan isya berkumandang. Fffhhhhhttt....sok sibuk betul ya kita, macam hidup di kota-kota besar saja, hehe.
Saat ngobrol sebentar itu pun Pak Su saya todong karena udah dua malam nih saya ga melaporkan tugas. Tapi ngobrol itu pun ga berdua, tetap saja sambil ngasuh anak bayi yang lagi aktif-aktifnya, hehehee...
Jadi tadi kami membahas sedikit tentang bagaimana harapan masing-masing terhadap kualitas komunikasi kami selama ini. Menurut Pak Su, intonasi suara saya kadang-kadang tidak bisa dibedakan apakah sedang marah atau bukan. Misalnya saja sewaktu saya lelah, nada suara menjadi ketus. Dikiranya saya marah, padahal tidak. Loh? Rupanya begitu ya..tadinya saya mengira Pak Su paham bagaimana membaca mood saya, ternyata tidak ya, haha. Namanya juga manusia biasa, bukan peramal (emangnya peramal beneran bisa ngeramal? 😂😂).
Hal seperti ini kayaknya memang sering dilakukan oleh kaum wanita: berharap pasangan/pria mampu mengerti. Entah perasaannya, entah keinginannya, kebutuhannya, cita-citanya (loh? Jauh amat).. Ujung-ujungnya jadi kecewa dan marah-marah sendiri. Can you relate? 😂😂
Loh kok jadi ke situ? Balik lagi ke intonasi. Ya, saya akui. Memang saya terbiasa menggunakan intonasi yang agak ketus dan keras. Ga bisa banget ngomong lembut. Mengobrol dengan orang tua saya pun sering begitu dan mereka fine-fine saja. Karena mereka orang tua, tentunya mereka paham tentang saya. Malah kalau tiba-tiba saya ngomong lembut mereka bakal mikir ada yang aneh, hehehehe. Tapi sekarang saya hidup bersama suami, orang yang dibesarkan di keluarga yang sama sekali berbeda. Saya mesti menyesuaikan diri dengan preferensinya si abang dong. Baiklah, ini jadi pelajaran saya malam ini.
Nah, ketika giliran saya tiba, azan isya berkumandang. Ditinggal lagi deh sama misua....dilanjut ntar ga ni yah? Iya, nanti kalau sempat, heuheu...
#HariKe6
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#KomunikasiProduktif
Komentar
Posting Komentar